A. “SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI SIMEULUE”
Pada awalnya Tgk. Halilulah dari Sumatera Barat
datang ke Aceh untuk menunaikan Ibadah Haji,
karena pada waktu itu Sumatera Barat
berada di dalam kekuasaan Kerajaan Aceh,
sehingga harus melapor terlebih dahulu
ke Sultan Aceh.
Oleh Sultan Aceh beliau diminta untuk
membatalkan niatnya berhaji
dan disarankan untuk melaksanakan
tugas suci yang nilainya sama
dengan menunaikan ibadah Haji ke Mekkah,
yaitu pergi ke sebuah Pulau
di ujung Pantai Barat Sumatera
yang dikenal dengan nama
Ulau “U” dan sekarang disebut dengan Simeulue
Untuk meng-Islamkan penduduk Simeulue.
Tgk. Halilullah dengan nama aslinya Tgk. Khalilullah
diperkirakan lahir sekitar abad XVI Masehi
berasal dari daerah Ulaan Pariaman Sumatera Barat,
dan isterinya bernama “Putri Melur” asal Pulau “U”
yang berada di Istana Raja Aceh pada saat itu
dan dinikahkan oleh Sultan Aceh di Kuta Raja,
lalu setelah menikah Tgk. Halilullah
bersama dengan isterinya
Puteri Melur berlayar ke Pulau “U”
dengan menggunakan Pincalang (Perahu Dayung)
menelusuri Pantai Barat Sumatera dengan rute :
Lhok Sedu, Calang, Merbo, Susoh, Bakongan,
Kuala Baru Aceh Selatan
Lalu sampai di Pulau Banyak.
Dari Pulau Banyak beliau meneruskan berlayar,
sampailah di Pulau Lekon atau Pulau Harapan,
mendarat di Lafakha
dan meneruskan perjalanan
ke Teluk Simeulue atau
Latak Ayah Simeulue Tengah,
dari daerah inilah beliau mengembangkan
ajaran Agama Islam
di Pulau Simeulue sampai akhir hayatnya,
beliau meninggal dunia tahun 1623 M.
Tgk. Halilullah di daerah Simeulue
diberi gelar dengan nama Tgk. Diujung,
karena beliau dimakamkan di sebuah tanjung
(Ujung dalam bahasa Simeulue)
di kawasan Teluk Simeulue Desa Latak Ayah.
Sumber Informasi : Pemerintah Kab.Simeulue ( By:Ad.2023 )
https://tanganiilmu.blogspot.com
B.“SIMEULUE ATEU FULAWAN”
Pulau Simeulue adalah sebuah pulau yang berada di Barat Sumatera. Yang terletak pada posisi kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, juga merupakan pulau pemerintahan Kabupaten Simeulue di tengah Samudra Hindia. Posisi geografisnya terisolasi dari daratan utama, Simeulue adalah Kabupaten baru yang Ibukotanya Sinabang hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh barat pada tahun 1999. Pulau ini terkenal dengan hasil cengkehnya. Hampir seluruh penduduk kepulauan ini beragama Islam. Setelah masa keemasan cengkeh mulai menurun, sebagian besar masyarakat Simeulue mulai beralih ke perkebunan sawit dan tanaman hortikultura sebagai mata pencaharian sehari-hari.
“Di Pulau Simeulue ada 3 bahasa yang digunakan masyarakat”
Bahasa Devayan umumnya digunakan oleh penduduk yang berdomisili di Kecamatan Simeulue Timur, Teupah Selatan, Teupah Barat, Simeulue Tengah dan Teluk Dalam
Bahasa Sigulai umumnya digunakan penduduk di Kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang.
Bahasa Leukon digunakan khususnya oleh penduduk Desa Langi dan Lafakha di Kecamatan Alafan. Selain itu digunakan juga bahasa pengantar (lingua franca) yang digunakan sebagai bahasa perantara sesama masyarakat yang berlainan bahasa di Simeulue yaitu bahasa Jamu atau Jamee (tamu) dan bahasa Aceh, awalnya dibawa oleh para perantau niaga dari Aceh, Minangkabau dan Mandailing.
Sumber : By.Ad.2023
.jpg)

Komentar
Posting Komentar